Peran Social Media Dalam Pelestarian Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja

               “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Kurang lebih seperti itulah bunyi ayat ketiga dari Sumpah paling terkenal di negeri ini yaitu Sumpah Pemuda. Hari ini tepat 84 tahun telah berlalu sejak sumpah tersebut pertama kali dibacakan di dalam Kongres Pemuda. Sekarang di tahun 2012 banyak sekali hal yang telah berubah dibandingkan 84 tahun yang lalu. Perkembangan internet yang begitu pesat menjadi suatu hal yang tidak bisa dielakkan. Salah satu bagian atau produk dari internet itu adalah social media. Diawali oleh melambungnya website semacam Friendster di awal era millennium kemudian diikuti Facebook di tahun 2004 dan yang terakhir adalah Twiter merupakan contoh dari beberapa social media yang sekarang sedang marak-maraknya digunakan diantara para remaja.

            Disadari ataupun tidak, peran social media sebagai media komunikasi diantara para remaja juga berpengaruh dalam bagaimana mereka berbahasa, bagaimana mereka menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi dengan kehadiran social media seperti twitter yang membatasi jumlah kata yang bisa mereka pakai untuk berkomunikasi. Akhirnya sebagai solusi untuk mengatasi ini semua para remaja memilih untuk memakai berbagai macam singkatan dalam percakapan mereka, tidak jarang singkatan-singkatan yang dipakai merupakan singkatan yang tidak lazim, dan hanya mereka dan sebagian orang saja yang mengerti dengan singkatan tersebut. Dalam setahun terakhir kata-kata yang dipakai pun seolah berubah drastic dari sebelumnya. Ada yang menyebut bahwa mereka memakai bahasa alay (anak layangan) atau apalah yang pasti bahasa mereka sekarang telah menyimpang jauh dari Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam beberapa pendapat yang lain juga menyebutkan bahwa Alay merupakan akronim dari Anak Lebay (Berlebihan).

            Alay sendiri yang sejatinya merupakan akronim dari Anak Layangan memiliki beberapa penafsiran sendiri. Diantaranya ada yang mengartikan bahwa karena Layangan atau Layang-layang merupakan jenis permainan yang sekarang tidak terlalu populer dibandingkan social media tentunya akhirnya membuat Anak Layangan memiliki penafsiran sebagai anak yang kuno atau norak. Karakteristik dari bahasa alay ini adalah dengan menggunakan variasi antara huruf besar dan kecil dalam satu kata, tidak jarang juga adanya sisipan angka atau symbol dalam kata tersebut. Seperti contohnya “h4Lo, 9i nGaP4ind?, L4gi Si8uk ?” atau terkadang juga dalam bentuk singkata-singkatan yang cukup susah dimengerti, seperti untuk kata “maaf” diganti menjadi “5f”. Dan yang paling baru adalah penggunaan kata-kata seperti “ciyus” untuk menggantikan serius, “miapah” untuk “demi apa”, dan “enelan” untuk menggantikan “beneran?”. Bahkan sampai ada kamus khusus bagi kata-kata tersebut yang secara tidak sengaja berhasil saya temukan beberapa waktu yang lalu.

            Secara resmi memang tidak ada yang tahu siapa yang pertama menggunakan kata-kata ini, terlebih lagi yang paling banyak menggunakan kata-kata ini adalah mereka yang masih duduk di bangku SMP, SMA dan kuliah dimana mereka terkadang tidak terlalu perduli dengan asal muasal sesuatu, mereka langsung memakai apa yang mereka anggap sedang tren dan populer di lingkungan mereka. Peran social media disini sangatlah besar, apalagi sebagai media penyebaran kata-kata ini. Di twitter sendiri ada yang dinamakan trending topic, yaitu kata-kata yang paling banyak dipergunakan oleh para pengguna twitter. Indonesia sebagai salah satu pengguna terbesar twitter maka tidak terlalu aneh jika terkadang isi dari trending topic tersebut merupakan dari Indonesia. Jika kata-kata alay ini menjadi trending topic di twitter maka bisa dipastikan, dia akan menyebar begitu cepat di dunia social media.

            Bagi beberapa kalangan kondisi seperti ini bisa dianggap mengancam tata bahasa Indonesia terutama di kalangan para remaja. Mereka yang kontra terhadap bahasa-bahasa semacam ini memiliki berbagai alasan misalnya saja bahwa kenyataan jika para remaja terkadang menggunakan bahasa-bahasa semacam ini pada waktu dan tempat yang kurang tepat. Sementara bagi mereka yang mendukung adanya bahasa-bahasa seperti ini menganggap bahwa hal ini tidaklah terlalu penting dan mengancam bahasa Indonesia itu sendiri, karena menurut mereka bahasa semacam ini memiliki sifat sementara, dimana hanya dalam periode tertentu saja bahasa seperti ini dipergunakan, bila sudah tiba masanya maka akan muncul bahasa baru lagi dan bahasa yang lama akan mulai tergantikan. Mereka yang setuju beranggapan bahwa bahasa-bahasa seperti ini tidak bisa dihilangkan begitu saja karena mereka menganggap bahwa ini termasuk kedalam kreatifitas remaja.

            Sekali lagi ditekankan bahwa bahasa semacam ini memiliki sifat yang sementara. Saat ini bahasa-bahasa tersebut memang sedang populer di kalangan remaja karena memang di social media seperti twitter bahasa seperti inilah yang biasa mereka pergunakan. Sementara bagi para orang tua diharapkan tidak terlalu cemas dengan perilaku para remaja selama mereka masih dapat memilih kapan dan dimana mereka harus memakai bahasa-bahasa tersebut maka hal ini sebenarnya tidak terlalu menjadi suatu masalah yang serius. Akan tetapi jika benar suatu saat nanti bahasa-bahasa seperti ini telah masuk melintas sampai ke tempat yang tidak seharusnya maka para orang tua wajib untuk cemas dan waspada. Seperti jika mereka para remaja memakai bahasa-bahasa ini untuk percakapan yang bersifat formal misal dengan Guru atau Orang tua mereka. Maka bisa dikatakan bahwa mereka telah berdosa terhadap ayat ketiga Sumpah Pemuda.

Referensi :

  1. http://sumpahpemuda.org/
  2. http://makassar.tribunnews.com/2012/10/28/sumpah-pemuda-ciyus-miapah
  3. http://www.solopos.com/2012/10/11/kamus-ciyus-miapah-ca-oong-cih-beredar-338084
  4.  http://www.solopos.com/2012/09/23/lapsus-bahasa-alay-bahasa-kita-sekarang-wow-gitu-331853

 

*Ditulis untuk memenuhi tugas UTS Mata Kuliah Komputer dan Masyarakat

Advertisements

One thought on “Peran Social Media Dalam Pelestarian Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja

  1. Pingback: blog pertamaku

Leave Your Comment Here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s