Saf Sholat

Alhamdulillah hari ini bisa sholat jumat di kampung halaman. Karena suara speaker masjid ga kedengeran sampe ke rumah jadi ga bisa ngira2 kapan waktunya adzan dan kapan waktunya khotbah karena biasanya pasti nunggu khotbah kedua mulai baru berangkat (kebiasaan buruk). Nyampe di masjid ternyata masih sepi dan baru mulai Adzan, akhirnya bisa ambil tempat sedikit di tengah barisan (biasanya paling belakang). Mulai gelar sajadah terus siap2 tidur, eh siap2 denger khutbah maksudnya 😀
Yang unik dan menarik dari khutbah di kampung gue adalah khutbahnya pake bahasa jawa krama, sehingga dulu waktu kecil gue harus memberikan perhatian ekstra tinggi untuk dapat memahami setiap kalimat yang diucapkan, apalagi kalau yang bicara di depan udah sepuh banget, udah level dewa bahasa kramanya, ga kejamah sama yang muda2 :D.

Khutbah kedua selesai dan siap2 untuk sholat jumat. Gue pun beranjak dari mimpi dan mulai menyadarkan diri. Disini gue mulai perhatikan sesuatu, ada yang ganjal di hati gue tapi apa ya. Setelah beberapa detik akhirnya mulai tersadar. Ternyata saf sholatnya tidak rapat, ada jarak yang cukup lebar diantara kaki-kaki para jamaah dan yang menyebabkan hal tersebut adalah sajadah yang mereka gunakan. Sajadah mereka memiliki ukuran yang cukup besar sehingga saat digelar cukup memakan tempat. Akhirnya yang rapat bukanlah antara kaki-kaki para jamaah melainkan sajadah jamaah, gue jadi berpikir apakah pengertian dari dirapatkannya saf mereka tafsirkan dengan merapatkan sajadah, karena gue liat memang sajadah mereka rapat semua saling menempel akan tetapi ya itu tadi, ukuran yang besar membuat adanya jarak diantara mereka. Dan setelah gue flashback masa lalu gue ternyata kebiasaan ini udah ada sejak dulu kala, sejak gue masih kecil. saat sholat tarawih pun terkadang lebih parah, ada yang sholat di ujung sebelah kanan dan satunya di ujung sebelah kiri, sementara ditengah dibiarkan kosong. Entah apa yang menyebabkan semua ini. Rasanya ingin memperbaikinya akan tetapi karena kebanyakan dari mereka adalah orang tua gue jadi merasa kurang sopan jika harus menegur. Jadi mungkin lewat doa saja. Semoga amal ibadah kami diterima di sisiNya. Amin ya rabbal alamin.

Advertisements

Leave Your Comment Here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s