Why Always Happy Ending

  Hampir setiap orang yang datang ke bioskop dan menonton film pasti mengharapkan hiburan saat menonton film atau minimal dapat terhibur setelah menonton film tersebut. Mereka mungkin sudah bosan dengan kenyataan sehingga mencari hiburan melalui film. Sehingga tidak jarang bisa dikatakan hampir semua film yang sekarang beredar baik di bioskop maupun di situs berbagi file/film selalu menawarkan happy ending atau akhir yang bahagia di setiap ceritanya. Dengan kemampuan para sutradara dan penulis naskah, happy ending ini berhasil mereka kemas sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik, tapi menurut gue ya sama saja, happy ending.

  Jujur saja gue bosan dengan genre-genre film semacam ini. Para produser mungkin menganggap genre semacam ini masih sangat menjual sehingga terus memproduksi film-film seperti ini. Sangat sulit bagi gue untuk mencari film dengan akhir yang tidak terlalu bahagia atau yang paling ekstrem sekalian akhir yang menyedihkan, sad ending. Setidaknya minimal gue selalu mencari film dengan cerita yang menyedihkan dan jika sudah tau akhirnya akan bahagia maka gue gak akan nonton akhirnya.

  Sangat munafik karena menurut gue jika semua film itu selalu memberikan akhir ceirta yang bahagia, karena sejatinya tidak ada akhir yang benar-benar bahagia, kecuali bagi segelintir orang yang memang mati dengan bahagia. Bagi sebagian orang lain hidup selalu penuh dengan penderitaan dan perjuangan, bahkan ada yang dari terlahir sampai mati pun terus menderita, itulah kenyataan yang ada di negeri ini. Kenapa mereka para produser film tidak berani mengangkat tema-tema seperti ini. Sebuah kenyataan yang memang terjadi tidak hanya di negeri ini saja gue rasa tapi juga di tempat lain di bumi ini. Film seolah hanya menjadi tempat pelarian sejenak untuk mencari kebahagiaan.

  Masih menurut gue, film-film dengan akhir yang tidak biasa ini akan meninggalkan sedikit kesan pada penontonnya di akhir cerita, sehingga para penonton tidak akan langsung lupa begitu mereka melangkah keluar dari pintu bioskop. Genre semacam ini mungkin lebih cocok jika dibuat untuk jenis-jenis film yang memiliki misi khusus dalam tujuan pembuatannya, Akan tetapi saat gue melihat film-film seperti itu, tetap saja beberapa diantaranya, malah kebanyakan memiliki akhir yang bahagia.

  Sebagai contoh saja jika ingin mengangkat tema tentang korupsi, maka bisa saja diceritakan dari awal tentang para koruptor yang terus berjuang, berjuang mencari celah untuk korupsi, hingga akhirnya dapat korupsi miliaran, ditangkap kpk, kemudian dapat vonis hukuman ringan. Di akhir cerita bisa diperlihatkan bagaimana hasil korupsi ini mempengaruhi ini dalam beberapa tahun kemudian, efeknya dalam berbagai bidang, misal korupsi dalam bidang pendidikan maka bisa diperlihatkan kondisi sekolah yang reot lalu rubuh dan menimpa siswanya hingga mati, atau bisa lebih tragis lagi jika yang mati masih ada hubungan dengan koruptor itu. Tidak perlu diperlihatkan akhir yang bahagia dimana koruptor akhirnya tertangkap dan akhirnya negara kembali damai. Ini pembodohan menurut gue, setiap sad ending setidaknya akan membuat para penonton itu akan terus berfikir tentang efek dari korupsi tersebut. Sementara happy ending akan membuat para penonton lega begitu keluar bioskop atau selesai menonton filmnya dan berfikir bahwa korupsi telah diatasai (iya diatasi, tapi dalam film yang baru saja selesai).

Ya itulah sedikit uneg-uneg dari fikiran sempit gue. Sekian

Advertisements

Leave Your Comment Here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s