Mulai Suka Membaca Buku (Lagi)

Aku tak pernah tahu atau mungkin lebih tepatnya lupa kapan pertama kali diriku dapat membaca dengan lancar. Tapi jika kucoba untuk mengingatnya kembali, saat masuk ke kelas 1 SD aku sudah lancar membaca, jadi mungkin saat aku masih TK aku telah bisa membaca. Saat masih kecil aku sering diajak untuk pergi entah keluar kota atau kemana saja. Di sepanjang jalan aku selalu melihat kearah luar, melihat setiap tulisan yang ada di sepanjang jalan dan mencoba untuk membaca semuanya, saat mobil semakin cepat melaju maka akupun dituntut untuk semakin cepat membaca semua tulisan itu. Aku menikmati semua perjalanan itu, perjalanan dimana aku hanya diam dan menatap keluar sepanjang jalan.

Keluargaku bisa dikatakan bukan merupakan golongan keluarga terpelajar, setidaknya bisa dilihat dari ijasah kedua orang tuaku yang hanya mentok sampai smp. Di rumah tidak ada cukup buku untuk aku baca dimana pada saat itu minat bacaku cukup tinggi. Sehingga kadang aku membaca apa saja yang bisa dibaca, mulai dari koran, majalah, sampai bungkus-bungkus makanan, dimana ada tulisan disana aku akan membacanya. Hal yang menyenangkan adalah ketika aku berhasil menjadi juara kelas di kelas 1 SD dan kakakku yang paling tua bertanya mau hadiah apa untuk keberhasilanku itu. Langsung saja tanpa pikir panjang aku meminta buku, aku bilang buku apa saja, yang penting bisa dibaca. Dan akhirnya dia memberiku komik, pengenalan pertamaku pada komik. Hal itu terus berlanjut sampai beberapa tahun berikutnya dimana aku selalu beruntung mendapatkan juara kelas dan selalu dibelikan buku olehnya.

Membaca buku hampir aku lakukan dimana-mana, terutama ditempat tidur, tempat paling menyenangkan bagiku, bahkan sampai sekarang. Akibatnya bisa dilihat dengan cepat, saat kelas 4 SD mataku mulai sedikit buram saat aku gunakan untuk membaca dan saat membaca terlalu lama kepala juga mulai terasa sedikit pusing, akhirnya diputuskan aku harus memakai kacamata, padahal kata dokter mata (yang cuma satu-satunya dikotaku saat itu) mataku cuma minus seperempat, dimana aku baru tau beberapa taun kemudian kalau minus seperempat itu sangat kecil sekali. Kacamata tidak menghalangi minat bacaku, sampai beberapa tahun berikutnya, setidaknya sampai aku lulus SD dan mulai masuk SMP. Sakit kepalanya mulai sering terasa setiap kali aku membaca buku, dan hal ini mulai menggangguku, secara perlahan aku mulai menjauhi buku-buku itu, dan praktis cuma buku pelajaran sekolah yang aku baca. Bahkan pada satu masa tertentu aku sangat benci membaca semua buku itu karena itu semua hanya akan membuat kepalaku semakin sakit setiap harinya. Dan aku mulai membenci setiap pelajaran yang mengharuskanku untuk banyak membaca, terutama sejarah.

Beberapa bulan belakangan ini aku mulai suka kembali untuk membaca buku. Entah kapan mulainya, aku selalu tidak bisa mengingatnya. Aku masih suka membacanya sambil tidur-tiduran dikasur, membaca didalam kamar, membacanya sambil makan cemilan dan hal lainnya. Sakit kepala itu masih ada sampai sekarang, dan aku menghiraukannya, setidaknya mencoba untuk menghiraukannya. Dan kadang harus berhenti membaca saat sakit kepala itu mulai datang. Dalam sehari aku tidak bisa terlalu banyak membaca buku seperti dulu, tapi aku rasa itu sudah cukup. Aku seperti telah menemukan duniaku yang dulu, begitu semangat melihat tumpukan-tumpukan buku di rak, dan tak sabar untuk mulai membuka lembar demi lembar halamannya dan membaca setiap kalimat yang ada didalamnya.

Advertisements

Leave Your Comment Here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s