Mengingat Mereka Yang Telah Berjasa

Jika ditanya siapa guru paling berpengaruh pada diriku saat ini pasti aku akan bingung, sebagian karena ada begitu banyak yang telah berjasa dalam hidupku dan sebagian lagi karena aku lupa beberapa nama mereka. Yang berpengaruh tentu saja tidak melulu berpengaruh baik, mereka yang memberi pengaruh kurang baik juga harus masuk kedalam hitungan karena tidak mungkin semua orang adalah orang baik, pasti ada sedikit sisi tidak baik dalam diri mereka dan bisa saja itu dipengaruhi oleh seseorang atau mungkin juga guru.

Aku jadi tertarik untuk kembali mengingat mereka yang selama beberapa tahun telah mengisi kehidupanku, memberikan begitu banyak pelajaran, baik yang tersurat maupun tersirat, baik yang masih kuingat ataupun yang langsung kulupakan begitu keluar dari pintu kelas. Mereka yang selalu menyapa dengan senyuman di tiap harinya. Membentak marah walaupun dalam hati tidak mau. Memberikan hukuman setiap kali aku terlambat datang ke sekolah.

Mulai dari guru di Sekolah Dasar, ada Bu Tutik atau Bu Titik kalau tidak salah ingat namanya. Beliau adalah tetanggaku walaupun rumah tidak terlalu dekat tapi masih satu desa dan orang tuaku kenal baik dengan beliau. Beliau tidak pernah mengajarku secara resmi karena saat SD wali kelas adalah guru dan dialah yang mengajar semua mata pelajaran. Lalu kenapa malah beliau yang masih kuingat? Simpel saja sebenarnya karena pada suatu kelas menggambar yang aku tidak suka karena harus menggambar bebas tiba-tiba beliau masuk ke kelas dan mengambil alih kelas karena wali kelasku saat itu sedang berhalangan. Aku masih ingat dengan jelas, hanya ada satu hal yang dia ajarkan kepadaku yaitu bagaimana caranya mewarnai. Aku yang masih kecil suka mewarnai secara sembarangan, dan beliau mengajarkan untuk mewarnai dengan pola yang searah saja, kalau dari kiri ke kanan ya begitu seterusnya, tidak bolak balik dari kanan ke kiri karena akan membuat warna terlihat lebih rapi.

Beranjak ke Sekolah Menengah Pertama. Lagi-lagi guru yang merupakan tetanggaku, kali ini beliau adalah Bu Hermin, waktu kecil aku memanggil beliau bu Andrin karena ibuku memanggil beliau demikian, beliau sangat baik sampai pernah aku diberikan baju oleh beliau saat beliau pindahan dari rumah yang dekat dengan rumahku ke rumah baru di desa sebelah. Beliau adalah guru matematika dan merupakan guru yang sangat disegani di sekolah karena galak tentu saja. Aku selama setahun mengambil les dirumah beliau, beliau lah yang membuatku begitu menyukai matematika saat SMP. Beberapa tahun yang lalu beliau terkena penyakit komplikasi dan akhirnya meninggal dunia, merasa kehilangan tentu saja tapi untunglah sebelum hari itu aku masih sempat menjenguk beliau dan beliau masih dapat bercanda saat itu. Semoga beliau tenang di sisiNya, amin.

Lanjut ke guru kedua adalah bu Erna, hampir lupa namanya tadi sebenarnya, tapi untunglah kemudian ingat lagi. Beliau adalah wali kelas di kelas dua. Sebenarnya cuma sebentar beliau menjadi wali kelas karena entah kenapa tiba-tiba wali kelas diganti. Tapi dari waktu yang singkat itu terdapat memori yang sangat berkesan. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia, pelajaran yang kurang menarik, kenyataannya memang seperti itu. Suatu waktu aku disuruh untuk mengangkat satu krat botol minuman dingin dari kelas ke kantor guru, saat itu adalah masa pertengah semester yang biasanya diisi dengan kegiatan senang-senang seperti lomba, dan botol-botol itu adalah properti lomba untuk para peserta, aku yang saat itu memang sedang tidak terlalu sehat tiba-tiba saja pingsan dan jatuh saat sedang mengangkat botol-botol tersebut. Otomatis saja satu sekolah langsung heboh dan orang tuaku langsung datang ke sekolah, saat itulah Bu Erna kemudian tahu tentang sakitku. Kalau tidak salah saat itu Bu Erna lah yang menyuruhku untuk mengangkat botol-botol itu, semenjak itu mungkin Bu Erna menjadi merasa bersalah kepadaku atau bagaimana akupun tak tahu perasaan sebenarnya. Tapi yang pasti setelah itu beliau jadi begitu perhatian kepadaku. Setiap kali masuk ke kelas sebelum memulai pelajaran beliau selalu bertanya kepadaku terlebih dahulu “Wahyu, apa kabar? Sehat?”, mendapat pertanyaan seperti itu aku jadi salah tingkah sendiri. Teman-teman sekelas juga mulai bercanda tiap kali bu Erna bertanya seperti itu, mereka menjawab “Saya sehat kok bu.” Saat lebaran aku selalu sempatkan untuk mampir ke rumah beliau untuk bersilaturahmi, tapi beberapa tahun ini aku tidak kesana, semoga beliau masih ingat denganku.

Terakhir adalah Sekolah Menengah Atas, karena kuliah namanya dosen, bukan guru lagi, dan gak pernah ada yang namanya Hari Dosen. Di SMA hampir semua guru di kelas 3 sangat berjasa, saat itu mereka berjuang begitu keras demi meluluskan para siswanya, memberikan pelajaran tambahan setiap pulang sekolah. Tapi diantara mereka semua tentu saja ada satu yang paling berjasa buatku, beliau adalah bu Pangastuti Edi Lestari, masih bisa kuingat namanya dengan lengkap karena itulah yang tertulis di akun facebooknya. Beliau adalah guru bahasa inggris, paling senior di sekolah, paling disegani, paling galak, dan paling gaul juga. Untungnya saat SMA nilai bahasa inggrisku tidak terlalu jelek-jelek amat sehingga aku tidak pernah kena marahnya. Yang paling kuingat tentu saja setelah pengumuman lulus sekolah, aku dan satu orang temanku punya inisiatif untuk meminta les dari beliau saat liburan menunggu kelulusan untuk persiapan masuk ke Universitas. Saat teman-teman yang lain masih sibuk menikmati kelulusannya dan liburannya, aku malah minta les tambahan saat sudah lulus. Dan beliau menerima kami dengan senang hati dan tanpa bayaran sepeserpun. Bahkan tidak jarang justru kami yang mendapat makanan gratis, ditraktir makan malam, dibuatkan es sirup, dibelikan makanan, sungguh murid yang tidak tahu diri. Tapi justru itu yang kemudian memompa semangat kami berdua untuk terus berjuang dan alhamdulillah kami berhasil masuk kampus dengan jurusan yang diinginkan. Terima kasih sekali lagi untuk bu Tutik.

Tentu saja masih ada guru-guru yang lain, seperti yang kusebutkan di awal ada juga beberapa guru yang memberi pengaruh kurang baik seperti guru sejarah yang saat aku masih kelas satu SMP mengeluarkanku dari kelas karena mengobrol dengan teman sebangku saat dia bercerita tentang homo-homo di jaman batu, yang kemudian membuatku begitu tidak menyukai pelajaran sejarah.

Tak pernah habis rasa terima kasih untuk mereka yang telah begitu banyak berjasa, mengajarkan berbagai macam hal, dari tidak tahu apa-apa sampai mengetahui hampir segalanya kemudian bisa mempertanyakan kembali apa yang mereka beri tahukan sebelumnya. Sungguh luar biasa para guru-guru itu. Semoga kalian semua mendapatkan pahalan atas apa yang telah kalian kerjakan selama ini, teruntuk semua guruku, ya semuanya, tidak terkecuali, dan juga untuk semua guru di negeri ini yang telah melahirkan banyak sekali murid-murid luar biasa yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Selamat Hari Guru – dari aku muridmu yang akan selalu mengingatmu.

Advertisements

Leave Your Comment Here :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s