B – Bugs

Bugs jika diartikan secara bebas tentu artinya adalah serangga, namun dalam dunia keamanan informasi atau Information Security, bugs bisa diartikan sebagai sebuah kesalahan dalam pemrograman yang dapat menyebabkan aplikasi tidak berjalan dengan semestinya. Dinamakan bugs karena memang sifatnya yang mengganggu seperti beberapa serangga pada umumnya.

Bugs ini pada awalnya hanya muncul pada aplikasi-aplikasi desktop saja, tapi dengan berkembangnya teknologi, sekarang banyak sekali terdapat aplikasi berbasis web yang tentu saja juga memiliki bugs.

Dilihat dari kacamata keamanan informasi, bugs dapat mengarahkan pada kebocoran data terutama pada aplikasi berbasis web. Para hackers yang berhasil menemukan bugs dan dapat memanfaatkannya dengan benar dapat masuk kedalam system dan memiliki kendali penuh terhadapnya.

Tidak semua hacker itu jahat, masih ada cukup banyak hacker baik, mereka sering disebut white-hat hackers, para hacker alim ini jika menemukan bugs akan melaporkannya ke pembuat aplikasi itu. Hackers yang mendedikasikan dirinya untuk menemukan bugs biasa disebut Bugs-Hunters.

Beberapa perusahaan besar memiliki sebuah program yang dinamakan Bugs Bounty, dimana bagi mereka yang dapat menemukan bugs pada aplikasi buatan perusahaan tersebut akan mendapatkan hadiah atau reward, biasanya berupa uang dan reputasi, nilainya bervariasi dari jutaan sampai ratusan juta, tergantung dari seberapa besar perusahaan tersebut dan seberapa besar dampak yang dapat dihasilkan dari adanya bugs tersebut.

Perusahaan yang terkenal dengan program bugs bountynya adalah Google dan Facebook. Setiap tahun mereka membayarkan reward yang tidak sedikit kepada para hacker alim ini.

Advertisements

Monyet dan Media Sosial

Ada sebuah tulisan menarik tentang fenomena invasi para monyet ke media sosial. Tulisan lama memang tapi masih relevan dan cukup menarik untuk dijadikan bahan renungan. Tulisan yang berjudul “The Clicking Monkeys” ini sangat pas menggambarkan apa yang terjadi sekarang di berbagai media sosial. Berikut salah satu kutipannya

Inilah orang yang dengan riang gembira mengklik telepon selulernya untuk mem-broadcast hoax ke sana-kemari, me-retweet, atau mem-posting ulang di media sosial. Mereka seperti kumpulan monyet riuh saling melempar buah busuk di hutan. Agar tidak ketahuan lugu, biasanya mereka menambahkan kata seperti: “Apa iya benar info ini?” atau “Saya hanya retweet lhoo.”

Saya jadi sadar, salah satu alasan kenapa kemudian saya menonaktifkan beberapa akun media sosial saya adalah karena beberapa teman disana sudah mulai berubah menjadi monyet, walaupun tidak semua 😛

Satu akun saya yang masih bertahan dari serbuan para monyet ini adalah instagram, ya mungkin karena disini tidak ada tombol share, retweet, ataupun broadcast atau mungkin juga para monyet tersebut belum tau caranya motret 😛

Stop Being Social

Okay, untuk kedua kalinya akhirnya gue deaktivasi lagi akun social media gue, kali ini yang kena imbasnya adalah facebook dan twitter. Jika sebelumnya hanya facebook kali ini twitter juga sekalian. Ada cukup banyak alasan sampai akhirnya pada keputusan untuk melakukan hal tersebut, alasan utama adalah karena sudah bosan dengan keduanya dan kedua website tersebut sudah terlalu banyak menyita waktu gue, waktu yang bisa gue pakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat, tidur misalnya.

Si burung biru memberi waktu 30 hari sebelum semua data di servernya benar-benar dihapus jika gue gak login kembali dalam waktu 30 hari tersebut, itu klaim dari mereka sih, gue juga gak tau itu data beneran bakal dihapus atau cuma dizip saja 😛 Sementara si biru satunya tidak memberikan batas waktu, hanya saja saat gue deaktivasi gue pilih alasan bahwa ini hanya temporary, ya mungkin saja gue berubah pikiran gitu dan iseng login lagi seperti sebelumnya 😛

Meskipun begitu untuk sementara mari menikmati waktu tanpa social media, Marhaban ya Ramadhan.