Hujan dan sebuah tawaran

Waktu menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh lima menit. Itu artinya kuliah yang membosankan ini akan segera berakhir. Cuaca diluar sedang mendung dan angin mulai bertiup kencang, pertanda hujan akan segera turun. Begitu Dosen mengakhiri kuliahnya, aku segera bergegas keluar dan berjalan menuju halte bis fakultas untuk menunggu jemputan bis kampus yang akan membawaku ke halte gerbang depan kampus, sementara gerimis mulai berjatuhan. Hari ini adalah hari jumat, seperti biasa setiap akhir pekan aku tidak menginap di asrama melainkan pergi ke tempat saudaraku yang berada di pusat kota dan menginap disana sambil menunggu hari senin tiba.

Bis yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba sementara gerimis telah berubah menjadi hujan. Aku masuk dari pintu depan, ada peraturan baru terkait bis kampus dimana mulai minggu kemarin setiap mahasiswa yang ingin naik bus wajib lewat pintu depan sementara mereka yang ingin turun harus lewat pintu belakang. Aku memilih untuk duduk dibagian tengah menghindari keramaian. Posisi kursi dari bis ini telah dimodifikasi sehingga kursinya dibuat berhadap-hadapan dan membuat bagian tengahnya sedikit lebih longgar dan mampu memuat lebih banyak orang. Bis mulai berjalan pelan meninggalkan halte fakultas dan hujan turun semakin lebat. Aku melakukan sedikit persiapan untuk menghadapi hujan dengan membungkus tas dengan raincover yang selalu kubawa. Sementara payung, aku tak pernah membawanya. Aku terlalu malas untuk memasukkan payung kedalam tas, itu hanya akan menambah berat dari tas yang aku bawa dan terkadang jikapun memang akhirnya hujan aku lebih memilih untuk berteduh dan menunggunya berhenti.

Bis hari ini tidak begitu ramai seperti biasanya, semua penumpang bisa duduk dan tak ada yang berdiri. Aku bisa melihat mereka semua dengan jelas. Di barisan kursi didepanku diujung sebelah kiri tepat dibelakang supir ada seorang wanita yang sedikit menarik perhatianku. Aku tidak tahu kapan dia naik, apakah sebelum aku naik atau setelahnya karena aku tidak terlalu memperhatikannya saat naik. Dia berjilbab, tidak terlalu ketat dan tidak juga terlalu longgar. Dengan ditemani sebuah buku dipangkuannya dia seolah telah berada di dunianya sendiri, tidak perduli dengan sekitarnya dan hujan yang semakin lebatnya. Cantik, itulah yang terlintas dibenakku ketika sedikit melirik ke arah wajahnya. Aku memutuskan untuk tidak memandangnya lebih lama karena berpotensi akan menjadi dosa. Aku pejamkan mataku sambil menunggu bisnya sampai di halte tujuanku.

Meskipun dengan mata terpejam aku masih bisa tahu kapan bis akan sampai di halte tujuanku dengan cara menghitung jumlah halte yang telah dilewatinya, dan perhitunganku kali ini benar seperti biasa. Ketika kubuka mata sisa penumpang didalam bis tinggal beberapa dan saat kulihat kearah depan dia masih ada disana. Aku bersiap untuk turun dan berjalan mendekat ke arah pintu belakang. Begitu bis berhenti aku langsung turun. Halte berada di sisi jalan satunya sehingga aku harus menyeberang jalan untuk mencapainya. Sialnya ditempat aku turun ada genangan air yang cukup banyak sehingga aku memutuskan untuk berjalan sedikit ke arah depan bis. Hujan yang semakin lebat membuat jalanku sedikit terburu-buru, di saat yang bersamaan wanita itu ternyata juga turun dan lewat pintu depan, membuatku kaget dan hampir saja menabraknya.

Dia langsung saja membuka payungnya, payung lipat yang biasa dibawa orang-orang karena praktis dan tidak terlalu besar. Aku berjalan melewatinya tanpa memperhatikan wajahnya. “Mau bareng?”, tiba-tiba saja dia mengatakannya, melihatku yang sudah basah terkena guyuran hujan mungkin membuatnya iba sehingga menawariku untuk sepayung dengannya menyeberang jalan yang lebarnya tak seberapa. Aku terdiam sejenak, hujan semakin lebat. Aku menoleh kearahnya tanpa melihat wajahnya dan berkata “Gak usah, makasih” dan seketika itu pula aku langsung berlari menerobos hujan untuk menyeberang jalan menuju halte. Setibanya di halte ternyata bis yang akan membawaku ke pusat kota sudah standby disana dan tanpa pikir panjang aku langsung menaikinya. Aku mengambil kursi paling belakang sebelah kiri dekat jendela, sejenak aku mengambil napas. Bis mulai berjalan, aku menoleh ke arah halte dan berharap bisa melihatnya tapi dia tak ada disana. Mataku berputar mencari kesekeliling halte tapi tak juga berhasil menemukannya.

Hujan mulai berhenti, pelan namun pasti dan aku tahu sepertinya hari ini hujan tidak datang bersama pelangi. Aku menyandarkan tubuhku ke kursi dan mulai memejamkan mata, berharap bisa kembali bertemu dengannya entah dimana hanya untuk berkata “iya”.[]

Advertisements

Resolusi 2015

Yeay post pertama di tahun 2015, di awal tahun pasti selalu pada ngomongin resolusi dan target setahun kedepan. Beberapa tahun lalu gue masih melakukan itu di awal tahun sampai di pertengahan tahun semua itu mulai terlupa haha. Bagus sih sebenarnya punya target yang jelas akan tetapi ya itu harus konsisten dan fokus, dan gue kurang begitu bisa fokus terutama jika targetnya ada banyak. Jadi untuk memudahkan, resolusi tahun ini masih akan seputar mimpi, kembang api dan pelangi 🙂

Rainbow In The Night

Bulan januari dan selalu identik dengan hujan, apalagi bagi negara dengan dua iklim seperti indonesia. Dan hujan ini tidak selalu membawa berkah karena hujan tahun ini membawa cukup banyak air dan banjir pada beberapa wilayah seperti Manado dan Jakarta tentunya. Sampai ada salah seorang temanku yang bertanya tentang doa meminta hujan untuk berhenti. Setauku di islam tidak ada doa seperti itu, mungkin ya karena islam turun pada awalnya di Arab yang daerah gurun dimana hujan saja jarang disana, jadi masa iya sekalinya turun hujan ada yang minta berhenti.

Waktu kecil saat masih hidup dikampung, hal yang paling menyenangkan dan ditunggu saat turun hujan adalah pelangi. Hal paling menakjubkan yang ada di langit, mengalahkan kekagumanku dengan hal lainnya di langit, dilukis begitu sempurna dengan urutan warna yang tidak pernah salah dengan lengkungan yang begitu presisi membuatnya tampil begitu menawan. Dan seperti anak kecil lainnya, aku selalu penasaran dari mana datangnya pelangi ini, apakah kalau aku pergi menuju ujung pelangi itu aku akan tahu dari mana dia berasal. Di jakarta seperti sekarang ini sangat sulit atau bahkan bisa dikatakan mustahil untuk melihat pelangi, melihat bintang di malah hari saja gak bisa.

Normalnya pelangi itu muncul setelah hujan dan saat ada sinar matahari, kenapa demikian? Baca saja penjelasannya di buku pelajaran IPA anak SD. Tapi tentu saja ada yang menggelitik pikiran dan imajinasiku, bagaimana jika sinar matahari itu digantikan dengan cahaya bulan? Apakah pelangi masih akan ada? Jika memang ada apakah masih seindah biasanya? Hal yang cukup menyenangkan untuk membayangkannya, melihat sebuah pelangi di malam hari.

Jika merujuk pada wikipedia maka istilah atau nama lain dari pelangi malam ini adalah Moonbow, istilah yang paling umum, dan beberapa istilah lain yang juga biasa dipakai seperti lunar rainbow, black rainbow, white rainbow, lunar bow, ataupun space rainbow. Penjelasan lebih detail tentang si moonbow ini mungkin akan aku tulis pada tulisan selanjutnya dengan merujuk pada berbagai sumber, semoga bukan wikipedia saja.

Oke segitu saja sedikit preview tentang pelangi malam, dan aku disini masih dan selalu menunggu untuk dapat melihatnya suatu hari nanti, entah dimana itu dan kapan aku tak tahu, tapi semoga aku dapat melihatnya